Pada kisah terdahulu, kami mengatakan bahwa semakin baik sebuah pelet, semakin sedikit abu yang ditinggalkannya. Itu tidak keliru. Namun jika Anda bertanya kepada teknisi yang benar-benar membakar pelet di pembangkit listrik, ia akan menjawab bahwa ada satu hal yang lebih ia perhatikan daripada jumlah abu: pada suhu berapa abu itu mulai meleleh.
Abu bisa meleleh
Kita cenderung menganggap abu tak lebih dari serbuk yang tersisa setelah semuanya terbakar. Namun serbuk itu pun meleleh begitu suhunya naik cukup tinggi — sebagaimana pasir meleleh menjadi kaca.
Persoalannya muncul ketika suhu leleh itu bertumpang tindih dengan suhu di dalam tungku. Zona api pada boiler industri umumnya berada di kisaran 800 hingga 900 derajat Celsius. Dan sebagian abu justru mulai melunak persis pada rentang itu. Abu yang melunak saling menempel menjadi gumpalan, dan saat mendingin ia mengeras seperti kaca, melekat pada dinding tungku dan kisi pembakaran. Inilah klinker yang sempat disebut tadi — tepatnya, slag. Sekali terbentuk, ia menghambat perpindahan panas, mengganggu aliran udara, dan hanya bisa dikerok dengan menghentikan peralatan.
Maka yang penting bagi teknisi bukan hanya "berapa persen abu yang keluar." Melainkan "apakah abu itu meleleh di suhu yang lebih tinggi daripada tungku kita?" Bahan bakar yang bertahan hingga suhu tinggi, sekalipun abunya sedikit lebih banyak, lebih mudah ditangani daripada yang meleleh pada 800 derajat betapapun sedikit abu yang ditinggalkannya.
Apa yang menurunkan titik leleh
Lalu apa yang menentukan titik leleh abu? Kuncinya terletak pada logam alkali di dalamnya, dan terutama pada kalium.
Kalium sendiri meleleh pada suhu yang relatif rendah, tetapi persoalan yang sebenarnya muncul ketika ia bertemu silikon. Ketika kalium dalam abu berikatan dengan silikon, terbentuklah senyawa bernama kalium silikat, dan titik lelehnya sungguh rendah secara mengejutkan. Silikon murni — pasir biasa — tak akan meleleh sebelum melewati 1.700 derajat; namun biarkan kalium masuk, dan campuran itu mulai melunak bahkan di kisaran 700 derajat. Ini karena sebuah gejala bernama 'eutektik', di mana beberapa komponen yang tercampur meleleh pada suhu jauh di bawah titik leleh masing-masing. Prinsipnya sama seperti garam yang ditaburkan di jalan bersalju melelehkan salju bahkan di bawah titik beku.
Maka begitu Anda mengetahui susunan abunya, terlihatlah seberapa jinak abu itu nantinya. Banyak kalium, natrium, atau klorin, dan titik lelehnya turun tajam; relatif lebih banyak kalsium dan magnesium, dan ia tetap tinggi.
Karena itu kayu lebih unggul
Di sinilah menjadi jelas mengapa pelet yang dibuat dari batang kayu lebih dihargai daripada bahan bakar herba seperti jerami.
Sisa pertanian seperti jerami padi, jerami gandum, dan batang jagung menyimpan banyak sekali kalium dan klorin. Sebabnya, karena tumbuh cepat, mereka menimbun banyak nutrisi di daun dan batangnya. Maka abu mereka mulai meleleh di sekitar 800 derajat — persis suhu di mana boiler bekerja. Untuk tetap membakar bahan bakar seperti itu, orang harus mencampurkan aditif seperti kapur guna memaksa titik lelehnya naik, atau bahkan mencuci bahan bakunya dengan air terlebih dahulu untuk menarik keluar kaliumnya.
Sebaliknya, kayu batang sebuah pohon menyimpan sedikit kalium dan relatif lebih banyak kalsium. Maka titik leleh abu kayu, sebagai aturan umum, berada jauh di atas suhu tungku, dan ia bertahan pada hampir semua tungku tanpa perlakuan khusus semacam itu. Di sinilah letak kekuatan diam-diam sebuah pelet kayu: titik lelehnya bukan diciptakan lewat pencucian atau aditif — bahan bakunya membawa sifat itu sejak awal.
Bukan rumput atau kayu, melainkan komposisi
Namun di sini satu salah paham perlu diluruskan. Ini bukan berarti yang herba selalu buruk dan yang kayu selalu baik. Sebuah contoh balik yang menarik justru terletak pada padi.
Meski keduanya berasal dari tanaman yang sama, jerami padi dan sekam padi bertolak belakang. Jerami padi, seperti baru kita lihat, kaya kalium dan meleleh pada suhu rendah. Sekam padi, sebaliknya, nyaris merupakan gumpalan silikon, sehingga ia bertahan hingga suhu yang lebih tinggi daripada kebanyakan kayu. Abu sekam padi, nyatanya, sukar meleleh dan sukar pula menempel, menempatkannya bukan di antara bahan bakar yang merepotkan, melainkan di antara yang jinak.
Maka yang menentukan titik leleh abu bukanlah soal lahiriah 'rumput atau kayu.' Pada akhirnya, itu adalah komposisi di dalamnya — terutama keseimbangan kalium, silikon, dan kalsium. Bahwa kami memilih kayu pun bukan karena ia 'sebuah pohon,' melainkan karena kayu batang sebuah pohon kebetulan memegang keseimbangan itu dengan baik.
Karena itu kami mengupas kulitnya
Dilihat dari sudut ini, apa yang kami katakan pada kisah terdahulu — bahwa kami mengupas kulit dan daun lalu memakai kayu bagian dalam yang bersih — memperoleh makna yang lebih dalam. Pada kulit dan daunlah kalium itu berkumpul. Maka mengupas kulit adalah pekerjaan mengurangi jumlah abu dan, sekaligus, menjaga titik lelehnya. Semakin hanya kayu batang yang tersisa, semakin tinggi suhu yang mampu ditahan abunya dengan tenang.
Kami membaca kedua angka itu bersama
Maka untuk menilai mutu sebuah pelet dengan benar, satu angka saja tidak cukup. Berapa persen abu yang keluar, dan pada suhu berapa abu itu mulai berubah bentuk — keduanya harus dibaca bersama. Angka pertama menyatakan seberapa bersih ia terbakar; yang kedua, seberapa lama ia akan menjaga peralatan yang membakarnya.
Memilih pelet yang baik, pada akhirnya, adalah menimbang bukan hanya seberapa kecil segenggam sisa itu, melainkan pula seberapa tenang ia akan diam.
Abu itu penting bukan hanya karena jumlahnya, melainkan juga karena titik lelehnya. Bila titik lelehnya turun di bawah zona api boiler (800–900°C), abu meleleh menjadi slag dan memaksa peralatan berhenti. Biang utama yang menurunkan titik leleh adalah kalium: bertemu silikon, ia membentuk eutektik yang mulai meleleh bahkan di kisaran 700 derajat. Namun 'rumput atau kayu' bukanlah ukurannya — dari tanaman padi yang sama, jerami kaya kalium dan mudah meleleh, sedangkan sekam kaya silikon dan menahan lelehan. Komposisilah yang menentukan. Kayu batang pohon tinggi kalsium dan rendah kalium, sehingga titik lelehnya tinggi — itulah sebabnya mengupas kulit sekaligus mengurangi jumlah abu dan, dengan menarik keluar kalium, menjaga titik lelehnya.