INKO NATURE ENERGY
Jurnal
Seri bahasa sederhana · 03

Pohon yang menjadi raja, dan
musuh tak terlihat yang menumbangkannya

2026. 07 · PT. INKO NATURE ENERGY

Izinkan kami mengajak Anda mengenal sebuah pohon. Di hutan tanaman yang kami kembangkan, kami tidak hanya menanam satu jenis pohon. Kami memilih beberapa spesies dengan karakteristik yang saling melengkapi. Mengapa demikian? Jawabannya dapat ditemukan dalam sebuah kisah nyata—sebuah peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah kehutanan Indonesia dan menjadi salah satu alasan kami merancang hutan seperti sekarang.

Babak 1 Ada pohon seperti ini

Pernahkah Anda membayangkan ada pohon dengan kemampuan seperti ini?

Hanya dalam lima hingga enam tahun setelah ditanam, batangnya sudah cukup besar untuk dipanen. Pohon ini mampu tumbuh di tanah yang asam dan kurang subur—lahan yang sering kali sulit ditumbuhi oleh jenis pohon lain. Keunggulannya tidak berhenti di situ. Berkat bakteri yang hidup pada akarnya, pohon ini mampu mengikat nitrogen langsung dari udara. Dengan kata lain, pohon ini dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan nutrisinya sendiri sehingga memerlukan pemupukan yang relatif lebih sedikit. Kayunya pun sangat sesuai sebagai bahan baku industri pulp dan kertas.

Bagi banyak pelaku industri kehutanan, pohon ini adalah pilihan yang hampir sempurna. Tumbuh cepat, mampu beradaptasi di berbagai kondisi lahan, sekaligus membantu memperbaiki kualitas tanah. Tidak mengherankan jika sejak dekade 1980-an, pohon ini mendominasi kawasan hutan tanaman di Indonesia dan Malaysia. Selama lebih dari dua dekade, jutaan hektare lahan ditanami spesies yang sama.

Nama pohon itu adalah Acacia mangium. Selama bertahun-tahun, ia menjadi primadona hutan tanaman tropis.

Namun, tidak ada yang menyangka bahwa masa kejayaannya akan berakhir.

Babak 2 Bayangan yang naik dari tanah

Awal dari perubahan itu datang tanpa banyak disadari.

Masalah mulai muncul pada rotasi tanam berikutnya, ketika akasia dipanen lalu ditanam kembali di lahan yang sama. Pohon-pohon yang sebelumnya tumbuh sehat mulai menunjukkan gejala yang tidak biasa. Daunnya menguning, ranting-rantingnya mengering, dan perlahan pohon-pohon tersebut mati. Ketika akarnya diperiksa, terlihat jaringan akar yang membusuk dan menghitam.

Penyebabnya adalah dua jenis jamur patogen. Yang pertama adalah Ceratocystis, penyebab penyakit layu yang menyumbat jaringan pembuluh air sehingga pohon mengering dan mati dari dalam. Yang kedua adalah Ganoderma, jamur penyebab busuk akar yang menyerang dari bagian bawah tanaman. Luka pada batang akibat aktivitas satwa seperti monyet dan tupai juga memperbesar peluang masuknya jamur ke dalam jaringan pohon.

Dampaknya sangat signifikan. Di Sumatra Selatan, produktivitas hutan tanaman akasia dilaporkan turun dari sekitar 22–35 meter kubik per hektare per tahun menjadi kurang dari 15 meter kubik per hektare per tahun. Pohon yang sebelumnya dianggap sebagai pilihan paling menjanjikan justru berubah menjadi sumber kerugian ketika terus ditanam secara berulang di lahan yang sama.

Yang paling mengkhawatirkan, ketika penyakit tersebut telah menetap di dalam tanah, penanganannya menjadi sangat sulit. Tidak ada penyemprotan maupun pengolahan tanah yang mampu menghilangkannya secara efektif. Satu per satu perusahaan kehutanan mulai meninggalkan akasia sebagai spesies utama. Dominasi yang bertahan lebih dari dua puluh tahun akhirnya runtuh, bukan oleh pohon yang lebih kuat, melainkan oleh jamur yang bahkan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Babak 3 Pewaris yang dipanggil tergesa

Ketika sang raja tumbang, industri kehutanan harus segera mencari penggantinya. Pilihan itu akhirnya jatuh pada Eucalyptus pellita.

Namun, ada satu hal yang perlu dipahami. Pellita bukan dipilih karena dianggap lebih unggul dari akasia dalam segala hal. Ia menjadi pilihan karena memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan jamur yang telah menghancurkan akasia. Meskipun tidak sepenuhnya kebal, pellita lebih tahan terhadap penyakit layu, karat daun, dan hawar daun, serta tetap menghasilkan kayu dan pulp dengan kualitas yang baik.

Sebenarnya, pellita telah diperkenalkan di Sumatra sejak awal 1990-an. Namun pada saat itu, perannya masih sangat terbatas. Selama akasia masih menjadi spesies utama, tidak banyak perhatian diberikan kepada pellita. Situasinya berubah ketika akasia mulai kehilangan dominasinya pada pertengahan tahun 2000-an. Pellita yang sebelumnya hanya menjadi pilihan alternatif, kini menjadi harapan baru bagi industri kehutanan. Bukan karena telah menjadi spesies yang paling sempurna, melainkan karena ia mampu bertahan ketika pilihan lain mulai kehilangan keunggulannya.

Babak 4 Menjadi benar-benar kuat

Seandainya kisah ini berhenti sampai di sana, pellita mungkin hanya akan dikenang sebagai pengganti yang datang pada waktu yang tepat. Namun, selama dua dekade terakhir, pellita terus berkembang melalui penelitian dan inovasi.

Berbagai lembaga riset dan perusahaan kehutanan di Indonesia menjalankan program pemuliaan tanaman secara berkelanjutan. Ribuan pohon ditanam dan dievaluasi untuk memilih individu dengan pertumbuhan tercepat serta ketahanan terbaik terhadap penyakit. Individu-individu unggul tersebut kemudian diperbanyak menjadi bibit yang memiliki kualitas lebih seragam. Upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ. Para peneliti juga mengembangkan berbagai hibrida melalui persilangan pellita dengan spesies eukaliptus lainnya untuk menghasilkan tanaman yang menggabungkan keunggulan dari masing-masing induknya.

Hasilnya sangat signifikan. Dalam sejumlah uji coba, beberapa hibrida mampu tumbuh lebih dari tiga kali lebih cepat dibandingkan pellita murni. Bibit hasil pemuliaan bahkan menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

Kini, pellita bukan lagi sekadar solusi sementara. Melalui proses penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan, ia telah berkembang menjadi salah satu spesies utama dalam hutan tanaman modern.

Babak 5 Beban mahkota

Namun, kisah ini juga menyimpan sebuah pelajaran penting.

Pellita bukanlah spesies yang sepenuhnya kebal terhadap penyakit. Ia hanya memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan akasia. Hingga saat ini, kasus infeksi Ceratocystis tetap ditemukan di sejumlah hutan tanaman pellita di Indonesia maupun Malaysia. Yang lebih penting lagi, patogen juga terus berevolusi. Penyakit yang hari ini masih dapat dikendalikan belum tentu akan tetap demikian pada masa mendatang.

Selain itu, pergantian dari akasia ke pellita juga membawa konsekuensi lain. Berbeda dengan akasia yang mampu mengikat nitrogen melalui bakteri pada akarnya, pellita tidak memiliki kemampuan tersebut. Artinya, pengelolaan kesuburan tanah menjadi semakin penting agar produktivitas hutan tetap terjaga.

Di sinilah pelajaran terbesar dari kisah ini. Tidak ada satu spesies pun yang akan menjadi jawaban untuk selamanya. Jika satu jenis pohon terus ditanam berulang kali di lahan yang sama, risiko munculnya penyakit yang menyerang secara spesifik akan semakin besar. Sejarah dapat terulang. Karena itulah, kami memilih membangun hutan dengan berbagai jenis pohon yang saling melengkapi. Keanekaragaman bukan hanya membantu meningkatkan ketahanan hutan terhadap penyakit, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Penutup Maka kami

Dari kisah ini, kami belajar tiga hal yang menjadi dasar dalam mengelola hutan.

Sebagai penutup

Seorang raja tidak bertahan karena sempurna. Raja yang bertahan adalah yang tahu bahwa ia pun suatu hari bisa jatuh. Begitulah kami ingin memperlakukan hutan. Alih-alih menobatkan satu jenis raja, kami menanam banyak jenis pohon yang akan saling bersandar dan bertahan bersama.

© 2026 PT. INKO NATURE ENERGY