Izinkan kami memulai dengan sebuah kisah lama. Mungkin Anda pernah mendengar kisah ini, meskipun dengan nama yang berbeda, bergantung pada negara tempat Anda tumbuh.
Di Korea, kisah ini dikenal sebagai "Bidadari dan Penebang Kayu." Dikisahkan seorang penebang kayu miskin menyelamatkan seekor rusa yang sedang dikejar pemburu. Sebagai balas budi, rusa itu menunjukkan sebuah kolam rahasia tempat para bidadari turun dari langit untuk mandi. Di sanalah sang penebang kayu menyembunyikan selendang salah satu bidadari sehingga ia tidak dapat kembali ke langit. Mereka kemudian menikah dan membangun sebuah keluarga. Bertahun-tahun kemudian, sang bidadari menemukan kembali selendangnya dan kembali ke langit, meninggalkan suami yang terus merindukannya.
Di Indonesia, kisah yang hampir serupa dikenal sebagai "Jaka Tarub dan Nawang Wulan." Jaka Tarub, seorang pemuda yang tinggal di tepi hutan, menemukan para bidadari yang sedang mandi di sebuah telaga. Ia menyembunyikan selendang milik Nawang Wulan sehingga sang bidadari tidak dapat kembali ke kahyangan. Mereka pun menikah dan dikaruniai seorang anak. Bertahun-tahun kemudian, Nawang Wulan menemukan kembali selendangnya yang selama ini disembunyikan dan akhirnya kembali ke kahyangan. Sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah pesan agar anak mereka dibawa keluar setiap kali bulan purnama tiba, karena pada saat itulah ia akan kembali menjenguknya.
Sekilas, kedua kisah tersebut terasa sangat mirip. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan. Sosok perempuan yang turun dari langit, selendang yang disembunyikan, kehidupan yang dijalani bersama di bumi, hingga perpisahan ketika sang bidadari kembali ke langit merupakan pola cerita yang ditemukan di berbagai budaya di Asia. Meskipun berkembang di negara yang berbeda, Korea dan Indonesia mewarisi kisah yang memiliki akar yang sama dan menceritakannya dalam bahasa serta tradisinya masing-masing.
Namun, ada satu kesamaan lain yang sering luput dari perhatian. Baik sang penebang kayu maupun Jaka Tarub menggantungkan hidupnya pada hutan. Mereka mencari nafkah dari pepohonan yang tumbuh di dalamnya. Hutan bukan sekadar latar tempat kisah itu berlangsung, melainkan sumber kehidupan yang memungkinkan mereka bertahan hidup.
Jika dipikirkan kembali, pekerjaan itu tidak jauh berbeda dengan yang kami lakukan hari ini. Kami juga memanfaatkan pohon sebagai sumber energi. Jika para penebang kayu pada masa lalu mengumpulkan kayu untuk menghangatkan tungku, kami mengolah kayu menjadi wood pellet sebagai sumber energi bagi pembangkit listrik. Teknologi dan skalanya memang telah berubah, tetapi tujuannya tetap sama: memanfaatkan energi yang tersimpan di dalam pohon untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam arti tertentu, kami melanjutkan sebuah pekerjaan yang telah dilakukan manusia sejak lama.
Karena itulah, kami ingin memandang kisah ini dari sudut yang sedikit berbeda—dari sudut pandang orang-orang yang menanam, merawat, dan membesarkan pohon.
Kedua tokoh dalam cerita tersebut sama-sama menemukan sesuatu yang sangat berharga di dalam hutan. Dan keduanya mengambil keputusan yang sama: menyembunyikannya agar tetap menjadi milik mereka. Untuk sesaat, pilihan itu membawa kebahagiaan. Selama Nawang Wulan tinggal di bumi, rumah tangga mereka hidup berkecukupan dan lumbung padi tak pernah kehabisan beras.
Namun, sesuatu yang berasal dari langit pada akhirnya akan kembali ke langit. Apa yang dipertahankan dengan paksaan tidak akan bertahan selamanya. Pada akhirnya, selendang yang disembunyikan itu ditemukan kembali, dan sang bidadari pun kembali ke tempat asalnya. Barangkali, semakin kuat keinginan manusia untuk memiliki, semakin besar pula kehilangan yang harus dihadapi ketika tiba saatnya melepaskan.
Kami pun memanfaatkan hasil hutan. Pohon-pohon yang kami tanam diolah menjadi wood pellet sebagai sumber energi yang digunakan di berbagai negara. Namun kami percaya bahwa mengambil saja tidaklah cukup. Jika hutan hanya terus dimanfaatkan tanpa dipulihkan, pada akhirnya ia akan kehilangan kemampuannya untuk memberi. Kita telah melihat kenyataan itu di berbagai belahan dunia, ketika hutan yang terus dieksploitasi akhirnya rusak dan ditinggalkan.
Karena itu, kami ingin menjalankan cara yang berbeda.
Setiap pohon yang kami panen diikuti dengan penanaman kembali, bahkan dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan cara itulah kami berupaya memastikan bahwa hutan tidak semakin berkurang, melainkan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Bagi kami, keberlanjutan tidak hanya berarti mengembalikan pohon kepada hutan, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Sebagaimana Nawang Wulan membawa kelimpahan selama berada di bumi, kami berharap keberadaan kami juga dapat memberikan nilai bagi tanah tempat kami bertumbuh dan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Dengan cara itulah kami percaya hutan akan terus memberi kehidupan. Sebagaimana Nawang Wulan berjanji akan kembali, hutan yang dirawat dengan penuh tanggung jawab akan terus tumbuh dan kembali memberikan manfaat dari waktu ke waktu. Itulah siklus yang kami yakini. Apa yang dipertahankan dengan paksaan pada akhirnya akan hilang. Namun hutan yang dikelola dengan rasa tanggung jawab dan komitmen untuk memberi kembali akan terus hadir, musim demi musim, bagi generasi yang akan datang.
Kedua pria zaman dulu kehilangan apa yang mereka coba genggam. Dari kisah mereka kami belajar jalan yang sebaliknya — menjaga dengan tidak menahan, tetap bersama dengan memberi kembali. Kami ingin menjadi penebang kayu yang tahu cara menanam. Dan kami berharap hutan kami, seperti bulan purnama, akan selalu kembali.